Komisi Komsos KAM

KOMISI KOMUNIKASI SOSIAL KEUSKUPAN AGUNG MEDAN   

Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa para komunikator Kristen memiliki tugas profetis, sebuah profesi untuk mengungkapkan hal-hal yang melawan ilah-ilah  dan idola-idola yang keliru  pada zaman ini; diantaranya materialisme, hedonisme, konsumerisme, nasionalisme sempit. Hubungan antar manusia hanya ditentukan dan disambungkan dengan komunikasi setiap pribadi individu hanya bisa menjadi dirinya sendiri apabila ia membangun suatu komunikasi dengan sesamanya.   

Komisi Komunikasi Sosial KAM 

Apakah yang dimaksud dengan Komisi KOMSOS ? Komisi Komunikasi Sosial merupakan karya kerasulan gerejani dan pastoral  melalui media komunikasi elektronik (lewat media komunikasi pers dan siaran) yang bermaksud menyebarluaskan kebenaran dan iman kristiani. Gereja memandang  alat-alat komunikasi sosial sebagai “anugerah-anugerah Allah” yang mempersatukan manusia dalam  persaudaraan dan dengan demikian membantu mereka bekerja sama dengan rencana Allah bagi keselamatan mereka. Maka pengertian yang lebih mendalam  dan lebih meresap tentang komunikasi sosial dan tentang alat-alat yang dipergunakan di dalam masyarakat modern patut mendapat perhatian sepenuhnya dari pihak Gereja sesuai ajaran Konsili vatikan II.Pengertian yang mendalam berdsarkan ajaran dan semangat  Konsili akan dapat membimbing umat Kristen dalam sikap mereka terhadap alat-alat itu dan membuat mereka lebih giat dan bersemangat melibatkan diri di dalam bidang ini. Maka sesuai dengan keterangan yang tercantum di dalam Dekrit “Inter Mirifica”, dan instruksi Pastoral mengenai alat-alat Komunikasi Sosial “Communio et Progressio”, Konferensi Waligereja Indonesia mendirikan sebuah komisi untuk Komunikasi Sosial, yang selanjutnya disingkat Komisi KOMSOS. Di Keuskupan Agung Medan, pembentukannya dirintis sejak 19 September 1973 di Jakarta oleh Komisi Komunikasi Sosial keuskupan-keuskupan dan Pusat-Pusat Produksi Katolik yang berkarya di bidang media komunikasi elektronik. Sejak lahirnya, Komisi KOMSOS KAM merupakan anggota dari organisasi Unda/OCIC, suatu lembaga untuk karya kerasulan dan pastoral bidang radio dan televisi, yang telah disetujui oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).  

Visi dan Misi KOMISI KOMSOS KAM 

Dalam menjalankan visi dan misinya, Komisi Komunikasi Sosial KAM mengacu kepada visi dan misi Komisi Komunikasi Sosial KWI, yaitu: 

VISI: Terwujudnya masyarakat Indonesia yang beriman, yang menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persatuan dan kemajuan bersama. 

MISI: Berlandaskan misteri Tritunggal Mahakudus, Komsos bertugas :

  1. mewartakan Kerajaan Allah dengan menggunakan media komunikasi.
  2. Memajukan kegiatan-kegiatan kerasulan dan pastoral di bidang media, serta membina umat kristiani  menggunakan sarana komunikasi secara bertanggung jawab
  3. Memelihara dan memajukan kebudayaan Indonesia

Fungsi-Fungsi Komsos Keuskupan: 

Sosok Komsos keuskupan tergambar dan terealisasikan dalam menjalankan fungsinya yang terbagi ke dalam enam kategori, yaitu: pertama, dalam hubungannya dengan uskup setempat maka Komsos keuskupan menjalankan fungsinya dengan cara membantu uskup dalam mengumatkan visi dan misi Komsos sesuai dengan kebijakan keuskupan, mengajukan usul saran kepada uskup setempat mengenai hal-hal yang menyangkut bidang kerasulan Komsos, memberikan pertanggungjawaban kepada Uskup atas seluruh karyanya. Kedua, fungsi eksekutif yaitu menjamin terlaksananya tugas-tugas pewartaan melalui peluang-peluang yang tersedia di media cetak, media elektronik dan atau media tradisional. Ketiga, fungsi Koordinatif dan Konsultatif, melaksanakan pendampingan pastoral bagi para komunikator dan para fungsionaris Komsos dari tingkat keuskupan sampai tingkat paroki. Keempat, fungsi edukatif: mengupayakan pendidikan dan on-going formation bagi para fungsionaris, komunikator, maupun umat.  Kelima, fungsi Public relations, menjadi jembatan informasi di dalam gereja maupun antara gereja dan masyarakat. Keenam, fungsi inspiratif / innovatif / animatif: mendorong umat untuk menggiatkan kerasulan media Katolik serta memanfaatkannya

Jejak-Jejak KOMSOS KAM 

Pada mulanya Komisi KOMSOS Keuskupan Agung Medan memiliki dua tempat kegiatan di Medan dan Pematang Siantar. Pada 9 Februari 1978, setelah banyak anggota yang mengikuti up-grading dalam bidang komunikasi sosial susunan anggota panitia Komunikasi sosial (pada saat itu masih disebut kepanitiaan) mengalami pembaharuan dan masih tercantum nama-nama yang sebelumnya juga terlibat aktif di dalamnya. Bertindak sebagai Ketua P. H.J.M. Domen bertanggung jawab untuk wilayah Pematang Siantar. Sedangkan untuk wilayah Medan (bertindak sebagai wakil ketua) adalah Frater Johan van Roosmalen, CMM, dengan penasihat artistic P. A. C. Nuijten. Di Medan beranggotakan 15 orang dan di Pematang Siantar beranggotakan 25 orang. Masing-masing anggota bertugas sebagai penulis naskah, teknisi/operator, seksi humas, dan para pemain.  Komsos Keuskupan Agung Medan dengan dua tempat kegiatan, masing-masing memiliki studio rekaman dengan nama Sanggar Sutera (Suara Radio dan Televisi, di Medan diresmikan Februari 1981) dengan tugas mengadakan siaran mimbar agama.

 Kegiatan-kegiatan rutin yang dilakukan pada saat itu, Komsos di Pematang Siantar lebih memfokuskan pada jenis siaran mimbar agama untuk radio yang disiarkan di stasiun radio swasta dan pemerintah. Bentuknya adalah Renungan Pagi dengan durasi 5-7 menit. Renungan ini disiarkan setiap pukul 06.45 dan 07.15 WIB. Renungan tersebut cukup mendapat tempat di hati pendengar/masyarakat karena selain singkat dan menarik renungan ini bukan untuk mempengaruhi tetapi untuk mendidik masyarakat tanpa meninggalkan asas-asas kekatolikan yang tersembunyi di dalamnya. Dengan demikian lapisan masyarakat dari berbagai agama dan dapat menikmati dan mendengarkannya. Selain itu setiap Minggu sore disiarkan Mimbar Agama Katolik dalam bentuk kotbah atau koor. Ada juga produk lain yaitu Bintang Kecil, Musik Klasik.  Sementara Komsos di Medan setiap bulan mengadakan  mimbar agama di TVRI pada Minggu ke-3,  dalam bentuk fragmen. Dalam tugas ini seluruh umat Katolik merasa involved karena para pemain selalu dipilih dari salah satu paroki atau stasi sehingga perhatian umat Katolik sangat besar untuk siaran tersebut. Tapi sayang acara ini hanya berlangsung sampai 1 April 1987. Dengan alasan kebijakan baru dari pihak TVRI Pusat. Mulai tahun ini siaran mimbar agama dipancarkan langsung dari TVRI Pusat. Siaran di stasiun RRI pun berjalan baik, meski pada waktu itu masih banyak menggunakan naskah dari Sanggar Prathivi Jakarta. Kegiatan lainnya, Studio Sanggar Sutera juga mengadakan rekaman untuk kelompok-kelompok tertentu, rekaman drama panggung, rekaman koor, dan multiplezering kasetten. ”,. Dari kegiatan dan program kerja ini maka banyak produk siaran yang dihasilkan Sanggar Sutera dengan kualitas yang baik. Tidak heran banyak sekali Radio-radio /KOMSOS  dari keuskupan lain yang menjalin kerjasama dengan KOMSOS KAM. Pada saat itu jumlah stasiun radio yang secara rutin menggunakan produk Sanggar Sutera mencapai 16 stasiun radio swasta dan pemerintah. Tidak hanya Sumatera Utara tapi bahkan sampai Kupang, Ruteng, Kalimantan, padang, Pangkal Pinang, Semarang, dan Menado. Sanggar Sutera Pematang Siantar juga secara rutin mengadakan pertunjukan film-film bertemakan rohani. Ini sangat efektif dalam rangka pengajaran iman. Dan pada bulan-bulan menjelang Natal atau Paskah, biasanya banyak kelompok yang menggunakan Studio rekaman untuk drama panggung. Mereka datang dari berbagai macam gereja karena Sanggar Sutera pada saat itu cukup punya nama. Bahkan untuk Sanggar Sutera Pematang Siantar (menurut catatan arsip yang ada), atas nama Bupati Simalungun, Studio Sanggar Sutera diminta untuk merekam sendratari, nyanyian, dan koor pada acara Pembukaan Pesta Danau Toba yang diadakan di Parapat setahun sekali.  Komsos juga pernah mengadakan dua kali kursus yaitu pada 1978 dan 6 Januari  - 5 Februari 1983. Kursus ini diarahkan pada program Radio dan televisi dan khusus untuk scriptwriting yang diselenggarakan  oleh Pater Daniels SJ dari Sanggar Prathivi Jakarta.  Kursus ini bertujuan untuk mencari sosok-sosok berbakat untuk Komsos dan para penulis. Dalam rangka membimbing para pemain, Komsos juga mengadakan suatu Festival Theater pada November 1982, diikuti 6 paroki dengan jumlah 72 pemain. Banyak dari festival ini direkrut para peserta berbakat untuk ikut serta dalam program Komsos.  MENJEMAAT MASUK KOMSOS Dalam rapat Tim Redaksi Menjemaat (10 Juni 1983), dikatakan bahwa Manjemaat adalah suatu sarana komunikasi. Maka sangat cocok bila ada hubungan atau kerjasama dengan KOMSOS KAM. Untuk ini, Tim Menjemaat mengharapkan Komsos turut serta dalam pengelolaan Menjemaat.  Akhirnya pada 1992, pada saat P. Yohanes Simamora bertindak sebagai ketua Komsos, Menjemaat resmi menggabungkan diri di bawah pengelolaan Komsos. Pada saat itu dengan sendirinya Menjemaat “pindah rumah” ke Pematang Siantar, berhubung P. Yohanes Simamora sebagai ketua Komsos berdomisili di Pematang Siantar.  Sejak 1 November 1995 Komsos KAM yang memiliki dua wilayah atau tempat kegiatan disatukan, dan dipusatkan di Medan dengan mengambil lokasi di Jl. S. Parman No. 107, sampai sekarang.  Dengan demikian semenjak Menjemaat digabungkan dengan Komsos, bidang karya menjadi bertambah, tidak hanya media elektronik tetapi juga media cetak.  

Kiprah KOMISI KOMSOS KAM 

Keuskupan Agung Medan memiliki 45 paroki dengan jumlah stasi 1.329.  Sebagian besar paroki tersebar di luar Medan (31 paroki) sedangkan kota Medan dan sekitarnya hanya 13 paroki.  Jumlah umat menurut data statistik 2003 berjumlah 499.627 ribu. Sekarang umat KAM diperkirakan sudah mencapai 500 ribuan lebih. Jumlah yang cukup besar untuk suatu ukuran gereja di Indonesia.             Umat KAM terdiri dari berbagai macam suku dan budaya. Ini merupakan tantangan tersendiri untuk KOMSOS. Melihat jumlah umat KAM yang cukup besar, maka Komsos memiliki peluang yang besar juga untuk menjalankan karya di bidang pewartaan iman melalui media komunikasi, baik cetak maupun elektronik. Hambatan yang cukup signicant adalah umat KAM tersebar di berbagai wilayah dengan radius yang cukup luas. Banyak ditemukan daerah perbukitan. Pewartaan melalui media elektronik (radio) juga mengalami hambatan khususnya dalam penerimaan frekwensi radio.  Komisi Komsos KAM memiliki dua bidang karya, yaitu media elektronik dan media cetak.  

Media elektronik, meliputi :1.1 Siaran Radio

Komisi Komsos KAM memiliki satu studio rekaman yang diberi nama SANGGAR SUTERA (Suara Televisi dan Radio). Melalui studio rekaman ini Komsos memproduksi kaset-kaset lagu rohani, drama Natal dan Paskah serta tema umum,  dan renungan. Hasil produksi ini disiarkan di stasiun radio swasta (Group Kardopa), Kardopa di Medan, Deli Indah Swara Ria di Tebing Tinggi, Kharisma di Balige, Jufti Indah di Sibolga, Radio Budaya Simalungun di Pematang Siantar, dan dua stasiun Radio Pemerintah Daerah (Rapemda) Simalungun dan Balige. Radio Republik Indonesia (RRI) Gunung Sitoli, Radio Gray FM Berastagi, Radio Karina, Pematangsiantar. Dengan jenis produksi untuk program radio sebagai berikut: Kotbah, Drama Radio, Konsultasi Iman, Majalah Udara, Taize. Masing-masing program berdurasi 30 menit. 52 program mingguan untuk dewasa (durasi 25 menit), 52 program mingguan untuk anak-anak (25’), 52 program kotbah mingguan (25’). Dulu ada juga program harian dalam durasi 5 menit, dengan nama Ragi Buana Pagi. Namun untuk sementara program ini terhenti karena seringkali program ini kekurangan bahan/naskah. Diperkirakan sejak 1997.

 1.2 Naskah Drama

Naskah-naskah drama panggung termasuk kasetnya, diusahakan untuk terus tersedia. Dari tahun ke tahun peminat untuk itu selalu ada. Termasuk mengusahakan naskah baru. Demi lancarnya program tersebut, Komsos juga menjalin kerjasama dengan beberapa pastor untuk mengisi acara kotbah mingguan untuk disiarkan di radio. Awal Februari 2003 ini kami baru saja melayangkan surat permohonan ke komunitas-komunitas Lembaga Hidup Bakti dengan permohonan pembuatan naskah renungan singkat dengan durasi 5 menit yang sifatnya umum, dengan tetap mengutamakan nilai-nilai Kristiani. Tapi sampai saat ini belum ada tanggapan sama sekali.

 1.3 Komunitas Pengisi Suara

Untuk menunjang pengisian program siaran radio dan drama, pada Januari 2003 KOMSOS membentuk Komunitas Pengisi Suara. Saat ini jumlah anggota yang ada kurang lebih 25 orang terdiri dari berbagai golongan usia, dari sekolah dasar sampai mahasiswa dan ada juga yang sudah bekerja. Apa saja kegiatan mereka ? Mereka mempunyai jadwal tetap untuk berlatih drama dan masuk dapur rekaman untuk program siaran radio. Dalam pelatihan mereka  didampingi langsung oleh seorang karyawan KOMSOS yang juga bertindak sebagai sutradara dan penulis naskah. Komunitas ini juga diharapkan dapat menjadi wadah dan sarana bagi kaum muda khususnya untuk mengekspresikan minat dan bakatnya dalam dunia komunikasi ini.

 1.4 Studio Rekaman

Komisi Komsos mengelola Studio Sanggar Sutera, studio rekaman yang dibuka untuk umum. Sampai saat ini studio ini masih banyak dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu, juga dari gereja lain. Fasilitas peralatan yang ada sampai saat ini masih terasa cukup.

 1.5 Kaset-kaset

Komsos juga menyediakan kaset lagu rohani dan umum, baik produk Komsos sendiri maupun produk lain.

Media cetak/majalah

Komisi Komsos KAM juga mengelola majalah keuskupan dengan nama “MENJEMAAT”. Majalah ini terbit bulanan. Tahun 2003 ini MENJEMAAT mencapai usianya yang ke- 25 tahun. MENJEMAAT tersebar di seluruh keuskupan Agung Medan, bahkan keluar KAM (Sibolga, Jawa, Menado, Kalimantan, Papua, juga sampai Brazil). Hanya saja oplah setiap bulannya sangat tidak sebanding dengan jumlah umat yang ada di Keuskupan kita. Mungkin selama ini kurang terjalin komunikasi yang baik antara Tim Menjemaat dengan para pastor paroki.  Meskipun demikian, melalui MENJEMAAT ini diharapkan katekese dan pewartaan iman terhadap umat bisa terus berlanjut. Selain itu MENJEMAAT juga diharapkan dapat berperan sebagai media komunikasi antara pemimpin keuskupan dengan umat, antar pemuka agama, dan antar umat sendiri. 

Komisi Komsos dan TVRI 

Sejak Maret 2006, Komisi Komsos dan Televisi Republik Indonesia (TVRI) Stasiun Medan bekerjasama dalam menayangkan program HARMONI IMAN KRISTEN selanjutnya disebut Program HARMONIKA, Harmoni Iman Katolik. Pada tahun 2006 acara yang berdurasi 1 jam (60 menit) ini ditayangkan sebulan sekali pada minggu ke-3. Pada 2007 Harmonika menjadi program dua mingguan, tiap minggu ke-2 dan ke-4 dengan durasi yang sama. Sampai saat ini sudah 30 episode Komsos menampilkan berbagai macam tema seputar Gereja Katolik, kehidupan sosial dan sebagai warga bangsa ini. Format acara dialog dan disiarkan secara langsung dengan interaktif. 

Kesadaran Bermedia 

Untuk meningkatkan kesadaran bermedia, atau pendidikan media (Media Awareness) Komisi Komsos mengadakan pelatihan jurnalistik yang difokuskan kepada kelompok muda. Hal ini menjadi penting khususnya dalam rangka membantu pendidikan hati nurani, melalui pemahaman, bagaimana media massa digunakan untuk mempengaruhi masyarakat, dengan tujuan membentuk sikap kritis terhadap apa yang diterima lewat media massa.  Melalui pelatihan ini juga, Komsos bertujuan memotivasi paroki-paroki untuk membuat bulettin atau warta paroki di paroki masing-masing peserta. Dengan demikian paroki memiliki sarana  informasi dan katekese terhadap umatnya. Pelatihan ini akan terus berlanjut secara berkala dan ke depan direncanakan tidak hanya dalam bidang media cetak, tetapi juga akan diadakan pelatihan dalam bidang audio dan audio visual. Sebagai sarana penunjang, Komsos juga mengelola sebuah toko. Meskipun kecil tapi KOMSOS termotivasi untuk menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga kerasulan atau pewartaan. Di dalamnya terdapat berbagai jenis buku rohani sampai buku-buku bacaan umum lainnya, kaset-kaset rohani, serta benda-benda devosional. Toko ini diberi nama VERITAS.  

KOMSOS di Masa Depan 

Selain mempertahankan dan meningkatkan kualitas bidang karya yang ada sekarang ini, Komsos KAM, selama ini belum memiliki stasiun radio. Maka untuk sementara Komsos  terus menjalin kerjasama yang baik dengan ke tujuh stasiun radio tadi, di samping menjajaki untuk menambah jaringan mitra kerja dengan stasiun radio yang lain. Ke depan Komisi Komsos KAM merasa sangat membutuhkan stasiun radio sebagai sarana pewartaan iman.   Sebenarnya, ketika P. H.J.M. Domen OFMCap, menjabat ketua Komsos ide untuk membangun stasiun radio sudah ada (26 Oktober 1987). Pada Pertemuan Nasional Komisi KOMSOS KWI di Semarang, (1-3 Maret 2003) banyak dibicarakan pentingnya radio Keuskupan, sebagai tindak lanjut dari Sidang KWI, 4-8 November 2002. Di situ dikatakan "KWI setuju bahwa para Uskup dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan pengadaan Radio Keuskupan (kalau belum ada) dan membuat jaringan kerja sama regional antara radio-radio Keuskupan". Fenomena yang sangat umum saat ini adalah begitu gencarnya pewartaan iman dilakukan lewat media elektronik baik radio maupun televisi. Sampai saat ini, radio masih memiliki peran yang signifikan dalam upaya pewartaan.  Itulah sosok KOMSOS KAM, yang dari waktu ke waktu mengalami jatuh-bangun seiring dengan derasnya tantangan. Tapi dengan visi dan misi yang ada KOMSOS KAM melalui dukungan hirarki dan terlebih umat KAM seluruhnya akan mencoba selalu hadir di hadapan dan bersama umat KAM. 

(Barnabas Nono Juarno, OSC - Ketua Komsos KAM)     

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.